Menggagas Ulang Zakat


Penulis
Masdar F. Mas'udi

Penerbit
Mizan Pustaka

Review
Zakat, lebih dari sekadar kewajiban sebagaimana pandangan umum, adalah koreksi mendasar terhadap konsep pajak lama, baik yang berlaku dalam sistem kekuasaan feodal raja-raja maupun dalam sistem kapitalisme modern dewasa ini. Dalam sistem kekuasaan feodal, pajak adalah persembahan (upeti) untuk raja tanpa memedulikan nasib rakyat. Sedangkan dalam sistem kapitalisme modern, pajak dipandang sebagai "imbal jasa" (jizyah) antara wajib pajak dan penguasa, sehingga negara pun cenderung lebih sebagai alat kaum kaya untuk melipat-gandakan kekayaan mereka belaka.

Mengacu kepada Sunnah Nabi pada awal sejarah Islam, Mas'udi meyakinkan kita bahwa zakat tidak lain adalah konsep etik keadilan transendental tentang perpajakan oleh negara di mana kaum kaya melepaskan sebagian kekayaannya untuk dibelanjakan bagi kemaslahatan bersama, dengan prioritas kaum yang lemah tak berdaya.

Zakat sebagai konsep pajak redistributif ini, tidak hanya relevan untuk menyeimbangkan kesejahteraan antar-warga atau antar-daerah dalam satu lingkup negara. Bahkan, konsep ini sudah saatnya juga dikaji penerapannya untuk menyeimbangkan kesejahteraan antar negara dalam lingkup global. Sesuai dengan spirit keadilan menurut Al Quran: "Agar kesejahteraan di bumi Allah ini tidak hanya beredar di antara orang-orang yang kaya."


"Ini karya intelektual Indonesia dengan khazanah keislaman klasik yang kaya. Mengatakan zakat sebagai konsep pajak dan pembelanjaannya merupakan pemikiran orisinal yang perlu untuk mendongkrak ajaran universal Islam yang terabaikan: keadilan sosial. Boleh jadi, ulama konvensional berkeberatan. Tapi, pada saatnya mereka akan berubah juga."

- Ahmad Syafii Maarif


"Bertolak dari pesan QS Al Hasyr (59): 7, dengan caranya sendiri Masdar Mas'udi mencoba menjabarkan ulang ajaran zakat dalam kehidupan yang belum beranjak dari kungkungan feodalisme raja-raja dan pemikiran modern kapitalis penyembah harta. Suatu ijtihad yang benar-benar relevan untuk membangun tata sosial yang lebih adil, terutama bagi yang lemah dan terabaikan."

- Mustofa Bisri


"Sungguh menarik menafsirkan ajaran zakat sebagai perspektif etik ilahiyat untuk sesuatu yang begitu profan: pajak dan pembelanjaannya oleh negara. Sebuah terobosan pemikiran yang sangat dibutuhkan untuk mengisi kekosongan jiwa sistem ekonomi modern yang lebih berorientasi pada akumulasi dan eksploitasi."

- Didik J. Rachbini

Gulag


Penulis
Aleksandr I. Solzhenitsyn

Penerbit
Bentang Pustaka

Review
Buku yang mengharumkan nama Solzhenitsyn ini adalah dokumentasi sekaligus renungan tentang kekejaman-kekejaman yang terjadi di Uni Soviet selama kekuasaan rezim Komunis di sana, yang ditulis berdasarkan penahanan dan pengasingan yang dialami Solzhenitsyn sendiri selain bukti-bukti yang dihimpun lebih dari 200 anggota tahanan dan arsip-arsip Soviet. Buku ini dan karya-karya Solzhenitsyn lainnya sempat membuat dunia terperangah: semntara dunia dikejutkan oleh pembantaian yang terjadi terhadap bangsa Yahudi di kamp-kamp konsentrasi di Jerman, ternyata ada kekejaman yang lebih besar yang terjadi secara diam-diam di Uni Soviet. Kepulauan Gulag, yang bertabur kamp-kamp maut, telah melahap puluhan juta nyawa penduduk Rusia dan bangsa-bangsa lain yang tinggal di wilayah kekuasaan Uni Soviet pada paruh pertama abad ke-20.

Dengan gaya bertutur yang tangkas dan lincah, kadang berbau satiris, Solzhenitsyn secara terperinci berkisah tentang operasi penangkapan, kamp kerja paksa, kamp penjara, suasana batin dan derita fisik para tahanan, termasuk kaum perempuan dan anak-anak, para tahanan yang berusaha kabur, orang-orang yang secara mengejutkan memiliki keteguhan moral menghadapi penindasan dan penyiksaan, serta kehidupan di pengasingan.

Di sepanjang penuturannya yang menawan, Solzhenitsyn lebih menekankan aspek moral dari persoalan yang diangkatnya ini. Pengungkapan kekejaman dan keculasan yang dilakukan sebuah rezim penguasa tidak cukup hanya dipandang sebagai masalah politik, melainkan merupakan sebuah masalah moral, yang mengantarkan pembaca pada pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang sifat dari manusia itu sendiri: apakah manusia pada dasarnya memang jahat? Ataukah baik? Dan mungkin yang paling penting: Mengapa manusia sering kali tidak mampu menentang kejahatan yang terjadi di depan matanya sendiri?

Melalui versi ringkats The Gulag Archipelago ini, Solzhenitsyn sekali lagi membuktikan bahwa kekuasaan pemerintah memang bisa digunakan untuk melakukan berbagai bentuk kekejaman kepada manusia, baik kepada tubuh maupun kepada jiwa manusia. Tapi kekuasaan itu tidak akan pernah bisa benar-benar memadamkan semangat manusia.

The Power of Appreciative Inquiry


Penulis
Diana Whitney
Amanda Trosten Bloom

Penerbit
Bentang Pustaka

Review
Dalam sepuluh tahun terakhir, Appreciative Inquiry (AI) menjadi sangat populer dan dipraktikkan di berbagai wilayah dunia mulai dari mengubah budaya sebuah organisasi, melakukan transformasi komunitas, mengarahkan proses merger dan akusisi dan menyelesaikan konflik hingga membangun pemimpin religius, dan menciptakan perdamaian

Praktik AI dalam sebuah perusahaan misalnya, secara dramatis meningkatkan performa setiap personel dalam organisasi dengan mendorong mereka untuk belajar, berdiskusi, serta mengambil manfaat hal-hal yang dapat berjalan baik lalu mengembangkannya, alih-alih mencoba memperbaiki hal-hal yang salah.